KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah
SWT. yang telah memberikan taufiq, hidayah, dan ma’una Nya kepada kami sehingga
dengan bekal kemampuan yang ada pada kami, kami dapat menyelesaikan makalah Geometri Transformasi ini.
Makalah ini kami suguhkan kepada semua
pembaca yang ingin mengetahui sekitar Translasi (Geseran). Paling tidak
makalah ini akan menjadi ilmu baru bagi para pembaca. Walaupun makalah ini
belum sempurna tapi kami akan berusaha memperbaikinya pada makalah yang akan
datang. Semoga saja makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin
Kepada Allah kami bermohon semoga
tetaplah tercurahkan ‘inayat-Nya dan memberikan taufiq-Nya kepada kami dan para
pembaca.
Bandar
Lampung, April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR .......................................................................... 1
DAFTAR
ISI ......................................................................................... 2
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 3
1.3 Tujuan ............................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 3
1.3 Tujuan ............................................................................................... 3
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Ruas Garis Berarah ........................................................................... 4
2.2
Pengertian Geseran atau Translasi .................................................. 10
2.3
Rumus Geseran dalam Bidang Koordinat ....................................... 13
BAB
III KESIMPULAN ..................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Banyak
besaran fisika, seperti luas, panjang, massa dan suhu, teruraikan secara
lengkap ketika besar besaran tersebut diberikan. Besaran-besaran seperti itu
disebut skalar. Besaran-besaran fisika lainnya, yang disebut vektor, tidak
secara lengkap terdefinisikan sampai besar dan arahnya ditentukan. Vektor dapat
disajikan secara geometris sebagai ruas garis berarah atau panah dalam ruang
dimensi 2 dan ruang dimensi 3. Berkenaan
dengan definisi vektor sebagai ruas garis berarah maka vektor menjadi pengantar
untuk memperkenalkan definisi translasi (pergeseran).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan
masalah dalam makalah ini adalah:
1. Definisi ruas garis berarah
2. Operasi terhadap vektor
3. Pengertian geseran atau translasi
4. Rumus geseran dalam bidang koordinat
1.3 Tujuan
Tujuan
dari makalah ini adalah:
a. Siswa mampu memahami pengertian geseran
atau translasi beserta teorema-teorema
pada geseran.
b. Siswa mampu membuktikan teorema pada
geseran atau translasi
c. Siswa mampu mengerjakan soal mengenai
geseran atau translasi
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1
Ruas Garis Berarah
1.
Pengertian ruas garis berarah
Berkenaan
dengan definisi geseran yang menggunakan istilah ruas garis berarah, maka perlu
didefinisikan dan dijelaskan lebih dulu tentang ruas garis berarah.
Definisi
:
Ruas
garis berarah (vektor) adalah suatu besaran yang mempunyai besar dan arah.
Disini
dapat kita lihat bahwa suatu vektor hanya ditentukan oleh besar dan arahnya
saja. Dengan demikian dua vektor dikatakan sama jika besar dan arahnya sama
itdak peduli letaknya dimana.
Suatu
vektor secara geometri digambarkan sebagai suatu anak panah, diaman panjang
anak panah menyatakan besarnya vektor sedang arah anak panah menunjukan arah
vektor.

A
Titik
A disebut titik pangkal vektor atau titik tangkap vektor.
Titik B disebut ujung vektor.
Titik B disebut ujung vektor.
Suatu
vektor yang titik pangkalnya A dan titik ujungnya B ditulis
atau ditulis dengan huruf kecil bergaris
atau huruf kecil tebal a. Besar atau
panjangnya vektor a ditulis 



2.
Operasi Terhadap Vektor \
Untuk
memperoleh jumlah, atau resultante dua vektor u dan v, gerakanlah
v tanpa mengubah besar dan arahnya hingga pangkalnya berimpit dengan
ujung u maka u + v adalah vektor yang menghubungkan pangkal u
dan ujung v.
Cara ini disebut hukum segitiga. (lihat gambar dibawah)
Cara ini disebut hukum segitiga. (lihat gambar dibawah)





u u + v

Cara
lain melukis u+v adalah menggerakan v sehingga pangkalnya
berimpit dengan pangkal u. Kemudian vektor u+v adalah vektor
sepangkal dengan u dan yang berimpit dengan diagonal jajaran genjang
yang sisinya adalah u dan v. Cara ini disebut hukum jajaran
genjang. Seperti gambar dibawah ini.
![]() |
u u+v




v
Dengan
menggunakan gambar seperti diatas dapat dibuktikan bahwa penjumlahan vektor
bersifat komutatif dan assosiatif, yaitu:
u
+ v = v + u dan
(u+v)+w
= u+(v+w)
Selanjutnya
jika u suatu vektor, maka 3u adalah vektor yang searah dengan u
tetapi panjangnya tiga kali panjangnya u; vektor -2u adalah
vektor yang arahnya berlawanan dengan arah u dan panjangnya dua kali
panjang u. Secara umum, cu adalah kelipatan skalar vektor u,
yang panjangnya adalah
kali panjang u, searah dengan u
jika c positif, dan berlawanan arah apabila c negatif.

Khususnya (-1)u (juga
ditulis –u sama panjangnya dengan
u arahnya berlawanan dengan u). Vektor ini disebut vektor negatif
u sebab jika dijumlahkan dengan u hasilnya adalah vektor nol
(yaitu suatu titik).
Vektor nol adalah satu-satunya
vektor yang tanpa arah tertentu, dinamakan vektor nol dinotasikan dengan 0.
Vektor ini merupakan unsur satuan penjumlahan yaitu u + 0 = 0 + u = u.
Sehingga kita dapat mendefinisikan pengurangan sebagai : u - v = u + (-v).
3.
Pembahasan Vektor dengan Pendekatan Aljabar
Dari
uraian terdahulu dengan pendekatan geometri dapat disimpulkan bahwa sebuah
vektor adalah keluarga anak panah yang panjangnya dan arahnya sama. Sekarang
kita akan membahas vektor secara aljabar. (lihat gambar dibawah)


![]() |
Y
Kita
mulai dengan mengambil sebuah sistem koordinat cartesius pada bidang, sebagai
wakil dari vektor u, kita pilih sebuah anak panah yang berpangkal
dititik asal. Anak panah ini ditentukan secara tunggal oleh koordinat u1 dan
u2 pada titik ujungnya; ini berarti bahwa vektor u ditentukan oleh pasangan terurut
<u1 , u2>.
Jadi selanjutnya kita anggap <u1 , u2> adalah vektor
u. Pasangan terurut <u1 , u2> ini merupakan vektor secara aljabar. Kita
gunakan simbol pasangan terurut <u1 , u2> karena (u1
, u2) sudah mempunyai pengertian tersendiri yaitu koordinat
titik pada bidang.
4.
Panjang dan Hasil Kali Titik
Definisi :
Jika u dan v adalah vektor – vektor di ruang 2 dan ruang 3 dan q adalah sudut di antara u dan v, maka hasil kali titik (dot product) atau hasil kali dalam euclidis (Euclidean inner product) u.v diddefinisikan oleh
u.v = êu êêv êcosq, jika u ¹ 0 dan v ¹ 0
0, jika u = 0 dan v = 0
êu êartinya panjang suatu vektor u dan didefinisikan sebagai êu ê=
(jika di ruang2) dan êv ê=
(jika di ruang3). Panjang suatu vektor juga
dikenal dengan norma. Secara geometris dapat digambarkan sebagai berikut ini.
Definisi :
Jika u dan v adalah vektor – vektor di ruang 2 dan ruang 3 dan q adalah sudut di antara u dan v, maka hasil kali titik (dot product) atau hasil kali dalam euclidis (Euclidean inner product) u.v diddefinisikan oleh
u.v = êu êêv êcosq, jika u ¹ 0 dan v ¹ 0
0, jika u = 0 dan v = 0
êu êartinya panjang suatu vektor u dan didefinisikan sebagai êu ê=


Gambar Vektor di Ruang 2
Jika
kita perhatikan, vektor u yang melalui titik asal tersebut membentuk sudut siku
– siku terhadap sumbu x. Sisi miring atau êu êdapat
dicari dengan menggunakan Rumus
Phytagoras, yaitu êu ê= u12 + u22 = êu ê2 =
.
Phytagoras, yaitu êu ê= u12 + u22 = êu ê2 =

Gambar Vektor di Ruang 3
Dengan
Rumus Phytagoras juga diperoleh :
êu ê2 = (OR)2 + (RP)2
= (RS)2 + (OS)2 + (RP)2
= (OQ)2 + (OS)2 + (RP)2
= u12 + u22 + u32
êu ê2 =
êu ê2 = (OR)2 + (RP)2
= (RS)2 + (OS)2 + (RP)2
= (OQ)2 + (OS)2 + (RP)2
= u12 + u22 + u32
êu ê2 =

Contoh :
Andaikan u = (4, -3). Tentukan êu ê dan ê-2u ê. Tentukan pula vektor yang searah dengan u tetapi dengan panjang 1.
Jawab:
êu ê=
= 5 dan ê-2u ê= ê-2 êêu ê= 2.5 = 10
Vektor v yang searah dengan u dan panjangnya 1 yaitu vektor
, karena
panjang vektor 
adalah
=
= 1
Sehingga v =
= (4, -3) / 5 = (4/5, -3/5).
Sifat – sifat pada perkalian titik vektor adalah sebagai berikut.
Misalkan u, v dan w adalah vektor di ruang2 atau ruang3 dan k adalah skalar maka:
Andaikan u = (4, -3). Tentukan êu ê dan ê-2u ê. Tentukan pula vektor yang searah dengan u tetapi dengan panjang 1.
Jawab:
êu ê=

Vektor v yang searah dengan u dan panjangnya 1 yaitu vektor


adalah


Sehingga v =

Sifat – sifat pada perkalian titik vektor adalah sebagai berikut.
Misalkan u, v dan w adalah vektor di ruang2 atau ruang3 dan k adalah skalar maka:
1.
v.v
=
2 =
= (v.v)1/2
Bukti:
Karena vektor v berhimpit dengan vektor v itu sendiri maka
adalah sudut di antara v dan v adalah 0
diperoleh
v.v = êu ê êu êcos
= êu ê2 cos 0
= êu ê2


Bukti:
Karena vektor v berhimpit dengan vektor v itu sendiri maka


v.v = êu ê êu êcos

= êu ê2 cos 0
= êu ê2
2.
u. (v + w) = u.v + u.wu.(v
+ w) = (u1, u2, u3).((v1, v2,
v3) + (w1, w2, w3))
= (u1, u2, u3).(v1 + w1, v2 + w2, v3 + w3)
= (u1(v1 + w1) + u2(v2 + w2)+ u3(v3 + w3))
= ((u1v1 + u1w1) + (u2v2+ u2w2)+ (u3v3 + u3w3))
= ((u1v1 + u2v2 + u3v3) + (u1w1 + u2w2 + u3w3))
= (u1v1 + u2v2 + u3v3) + (u1w1 + u2w2 + u3w3)
= u.v + u.w
= (u1, u2, u3).(v1 + w1, v2 + w2, v3 + w3)
= (u1(v1 + w1) + u2(v2 + w2)+ u3(v3 + w3))
= ((u1v1 + u1w1) + (u2v2+ u2w2)+ (u3v3 + u3w3))
= ((u1v1 + u2v2 + u3v3) + (u1w1 + u2w2 + u3w3))
= (u1v1 + u2v2 + u3v3) + (u1w1 + u2w2 + u3w3)
= u.v + u.w
3.
k(u.v) = (k.u).v = u(kv)
Bukti:
k(u.v) = k((u1, u2, u3).(v1, v2, v3))
= k(u1 v1 + u2 v2 + u3 v3)
= (k(u1 v1) + k(u2 v2) + k(u3 v3))
= ((ku1)v1 + (ku2)v2 + (ku3)v3) Asosiatif
= (ku).v
= (u1(kv1) + u2(kv2) + u3(kv3)) Komutatif
= u.(kv)
Bukti:
k(u.v) = k((u1, u2, u3).(v1, v2, v3))
= k(u1 v1 + u2 v2 + u3 v3)
= (k(u1 v1) + k(u2 v2) + k(u3 v3))
= ((ku1)v1 + (ku2)v2 + (ku3)v3) Asosiatif
= (ku).v
= (u1(kv1) + u2(kv2) + u3(kv3)) Komutatif
= u.(kv)
4.
0 . u = 0
Jika u dan v adalah vektor – vektor taknol dan
adalah sudut di antara kedua vektor tersebut, maka
Jika u dan v adalah vektor – vektor taknol dan






Perlu diingat bahwa
akan lancip jika dan hanya jika cos
> 0,
akan
tumpul jika dan hanya jika cos
< 0 dan
akan =
(siku-siku) jika dan hanya jika cos
= 0. Karena êu ê
0 dan êu ê > 0 serta berdasarkan Definisi
Dot Product bahwa u.v= êu ê êu ê cos
, maka u.v memiliki tanda sama
dengan cos
. Karena
, maka sudut
lancip jika dan hanya jika cos
> 0,
tumpul jika dan hanya jika cos
< 0, dan
=
jika dan hanya jika cos
= 0


















5. u.v
= v.u
Bukti :
u.v = (u1, u2, u3).(v1, v2, v3)
= (u1 v1 + u2 v2 + u3 v3)
= (v1 u1 + v2 u2 + v3 u3) Komutatif
= (v1, v2, v3).(u1, u2, u3)
= v.u
Bukti :
u.v = (u1, u2, u3).(v1, v2, v3)
= (u1 v1 + u2 v2 + u3 v3)
= (v1 u1 + v2 u2 + v3 u3) Komutatif
= (v1, v2, v3).(u1, u2, u3)
= v.u
Bentuk
hasil kali titik u.v selain dari definisi di atas dapat juga dihitung dengan u .
v = êu êêv êcos
, dimana
adalah
sudut yang dibentuk oleh vektor u dan v.
Dari rumus u.v = êu êêv êcos
tampak bahwa jika vektor u dan v saling tegak
lurus, maka Ө = 900 berarti cos Ө = 0 Sehingga diperoleh bahwa u.v = 0. Dari sini
dapat disimpulkan bahwa dua vektor u dan v saling tegak lurus (ortogonal) jika
dan hanya jika u.v = 0


Dari rumus u.v = êu êêv êcos

2.2
Pengertian Geseran/Translasi
Definisi:
Suatu pemetaan S disebut geseran/translasi, apabila terdapat suatu ruas garis berarah AB sedemikian sehingga untuk setiap titik P dalam bidang V berlaku S(P) = P’ dengan PQ = AB. Selanjutnya geseran dengan vektor AB dinyatakan sebagai SAB.
Suatu pemetaan S disebut geseran/translasi, apabila terdapat suatu ruas garis berarah AB sedemikian sehingga untuk setiap titik P dalam bidang V berlaku S(P) = P’ dengan PQ = AB. Selanjutnya geseran dengan vektor AB dinyatakan sebagai SAB.
![]() |
A P
S(P)=P’
B
Karena
pengertian geseran didasarkan pada vektor, maka didapat suatu teorema:
a. SAB.=
SCD jika dan hanya jika AB =
CD
Bukti:
1. SAB.=
SCD maka
AB = CD
Ambil
titik P dan kenakan S dengan vektor geser AB
Berarti
SAB(P) = (P’) berarti AB = PP’
Karena
SAB.= SCD maka SCD(P) = (P’)
berarti CD = PP’
Karena
AB = PP’
CD = PP’
Maka akibatnya AB = CD
2. AB = CD maka SAB.= SCD
Ambil
P dan kenakan SAB berarti SAB(P) = (P’) berarti AB = PP’
Karena
AB = CD maka CD = PP’
Sehingga
SCD(P) = (P’)
SAB(P) = (P’)
Maka akibatnya SAB.= SCD
Dari (1) dan (2) terbukti SAB.= SCD maka AB = CD
Ilustrasi:
![]() |
A B
![]() |
C D
b. Misalkan
tiga titik A, B, dan C tidak segaris.
SAB.= SCD
jika dan hanya jika CABD berupa
jajaran genjang.
Bukti:
1. SAB.=
SCD maka
CABD berupa jajaran genjang.
Dengan dalil 2.1
diperoleh bahwa jika SAB.= SCD maka AB = CD
Karena SAB.= SCD maka AB = CD berakibat AC = BD
Jadi CABD berupa
jajaran genjang
2. CABD jajaran genjang maka SAB.= SCD
CABD jajaran genjang
berarti terdapat 2 pasang sisi yang sejajar dan sama panjang, yaitu AB = CD dan
AC = BD
Karena
AB = CD dengan dalil 2.1 (jika AB = CD maka SAB.= SCD ) jadi SAB.= SCD
Dari (1) dan (2)
terbukti bahwa SAB.= SCD jika dan hanya jika CABD berupa jajaran
genjang.
Catatan:
Geseran SAB akan
merupakan Identitas jika A = B. Jelas, bahwa oleh suatu geseran SAB bukan merupakan identitas, maka setiap titik
pasti bukan titik tetap. Jadi tidak ada titik tetap dalam geseran yang bukan
identitas. Tetapi geseran punya garis tetap, yaitu semua garis yang sejajar
dengan vektor geserannya.
Selanjutnya dengan
mudah dapat dibuktikan bahwa geseran merupakan transformasi dan inversnya juga
merupakan geseran, yaitu: (SAB)-1
= SBA.
c. Geseran
adalah suatu isometri.
1. SAB(P)
= P’ =>AB = PP’
SAB(Q)
= Q’ =>AB = QQ’
Akibatnya PP’ = QQ’
Akan dibuktikan P’Q’ =
PQ
PP’ dan Q tidak segaris
dengan dalil 2.2 PQQ’P’ jajar genjang berakibat P’Q’ = PQ = P’Q’ = PQ
2. PP’ dan Q segaris
P’Q’ = PQ’ – PP’
= PQ + QQ’ – PP’ karena PP’ = QQ’
Maka P’Q’ = PQ
Akibatnya P’Q’ = PQ
Jadi Geseran (S) adalah
suatu isometri.
d. Geseran
mempertahankan arah garis.
e. Hasil
kali dua geseran SAB dan SCD akan berupa suatu geseran SPQ
dengan PQ = AB + CD.
|
|
|

Ambil sebarang titik T
di bidang V,
Akan dibuktikan bahwa SCD
ο SAB(T) = SPQ(T)
Misal T’ = SAB(T)
dan T’’ = SCD(T’)
Maka TT’ = AB dan T’T’’
= TT’ + T’T’’
= AB + CD = PQ
Sehingga (T) = T’’ = SAB+CD
(T) = SCD ο SAB(T)
Terbukti SCD
ο SAB(T) = SPQ(T)
2.3
Rumus Geseran Dalam
bidang koordinat




A P
x
Dari
gambar dia atas menunjukan bahwa titik P di petakan p’ oleh suatu translasi. Misal
diberikan translasi dengan bentuk vektor yaitu
yang menunjukan bahwa translasi Pp’ di hasilkan oleh 4 satuan
secara horisontal ke kanan dan 5 satuan secara vertikal keatas. Dan dapat
dimisalkan 4 satuan dengan h dan 5 satuan dengan k. Dari pernytaan tersebut
dapat di simpulkan h searah dengan x dan k searah dengan y.
Catatan :Pergeseran ke arah kanan dan atas bertanda positif dan sedangkan pergeseran ke arah kiri dan bawah bertanda negatif.
Sehingga geseran PP’ dapat dinyatakan secara analitis sebagai berikut:
P(X,Y) P’(X’,Y’)
P’(X’,Y’) =
(x + h , y + k)
diberikan translasi dengan bentuk vektor yaitu

Catatan :Pergeseran ke arah kanan dan atas bertanda positif dan sedangkan pergeseran ke arah kiri dan bawah bertanda negatif.
Sehingga geseran PP’ dapat dinyatakan secara analitis sebagai berikut:

P’(X’,Y’) =

Dengan diketahuinya rumus tersebut,
dapat di katakan bahwa translasi adalah transformasi isometri yakni tidak adanya perubahan dalam bentuk dan ukuran oleh
suatu translasi maka bangun dan bayangannya kongruen.
Bukti :
Misalkan translasi suatu transformasi dengan vektor AB, dimana vektor AB (a,b).
Diketahui : P(x,y) dan Q (u,v), P,Q € V. Maka
= (x + a , y + b ) dan
= (u + a, v + b), sehingga,
Misalkan translasi suatu transformasi dengan vektor AB, dimana vektor AB (a,b).
Diketahui : P(x,y) dan Q (u,v), P,Q € V. Maka


׀PQ׀ = 

׀
׀= 
׀=
Jadi, terbukti bahwa translasi adalah isometri.


׀=

Jadi, terbukti bahwa translasi adalah isometri.
Teorema
Pada saat translasi AB ≠ I, tidak mempunyai titik tetap, semua garis yang sejajar akan menjadi garis tetap.
Bukti :
Akan dibuktikan tidak ada titik tetap secara analitis. Karena pergeseran AB ≠ I berarti AB ≠ 0. Maka :
=
(x + a , y + b). Misal P(x, y) adalah titik
tetap, maka berlaku x + a = x dan y + b = y. Berarti a = 0 dan b = 0. Ini
berarti bertentangan dengan yang diketahui bahwa AB ≠ 0. Jadi tidak mungkin terdapat titik tetap.
Bukti bahwa garis yang sejajar AB adalah
garis tetap. Misalnya h : px +qy +c
merupakan garis tetap maka h = h’, padahal berdasarkan definisi geseran,
persamaan garis:
Pada saat translasi AB ≠ I, tidak mempunyai titik tetap, semua garis yang sejajar akan menjadi garis tetap.
Bukti :
Akan dibuktikan tidak ada titik tetap secara analitis. Karena pergeseran AB ≠ I berarti AB ≠ 0. Maka :


h’: p (
- a) + y(
- b) + c atau p
+ q
+ c – ap – bq = 0
Agar h = h’ maka c – ap – bq = c atau Ap = - bq atau -
= gradien garis h. Ini berarti
garis h sejajar dengan AB. Sehingga terbukti bahwa garis yang sejajar dengan AB merupakan garis tetap.




Agar h = h’ maka c – ap – bq = c atau Ap = - bq atau -

garis h sejajar dengan AB. Sehingga terbukti bahwa garis yang sejajar dengan AB merupakan garis tetap.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
Suatu
pemetaan S disebut geseran/translasi, apabila terdapat suatu ruas garis berarah
AB sedemikian sehingga untuk setiap titik P dalam bidang V berlaku S(P) = Q
dengan PQ = AB. Selanjutnya geseran dengan vektor AB dinyatakan sebagai SAB. Pengertian
geseran didasarkan pada vektor sehingga didapat suatu teorema:
a. SAB.=
SCD jika dan hanya jika AB =
CD
b. Misalkan tiga titik A, B, dan C tidak
segaris
c. Geseran adalah suatu isometri
d. Geseran mempertahankan arah garis
e. Hasil kali dua geseran SAB
dan SCD akan berupa suatu
geseran SPQ dengan PQ = AB + CD.
Dengan diketahuinya rumus P’(X’,Y’) =P’(x + h , y + k), dapat dikatakan
bahwa translasi adalah transformasi isometri
yakni tidak adanya perubahan dalam bentuk dan ukuran oleh suatu translasi maka
bangun dan bayangannya kongruen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar